Kita datang dari dua langit yang berbeda,
namun sempat bertemu di satu senyap yang sama.
Kau adalah pria Kanada yang begitu sopan—
membawaku pada hangat yang tak pernah kuminta,
hangat yang diam-diam kusembunyikan di dada.
Kebaikanmu selalu lebih dari cukup,
namun dunia kita tidak.
Ada jarak yang tak bisa dijembatani kata,
ada budaya yang tak bisa dijahit oleh rindu,
dan ada perbedaan yang terlalu besar
untuk kita paksakan menjadi rumah.
Aku bahagia bersamamu,
bahagia dengan cara yang sederhana—
dengan caramu mendukung,
menenangkan,
dan memberi perhatian
pada hal-hal kecil yang bahkan kulupa.
Namun cinta kadang harus berhenti
di saat hati masih ingin tetap tinggal.
Kita berjanji akan tetap jadi teman,
tapi aku tahu perpisahan ini
menggores lebih dalam di hatimu
daripada yang sempat kau ucapkan.
Kini kau memblokir semua jejakku,
bukan karena benci…
tetapi karena lukamu
perlu tempat yang tak ada aku di dalamnya.
Aku mengerti.
Kadang mencintai berarti melepaskan
tanpa menyalahkan siapa pun.
Aku hanya berharap,
di negaramu yang jauh,
kau tetap baik-baik saja—
sebaik kebaikan yang pernah kau bagi
saat jalan kita masih satu arah.
Dan meski kita tidak lagi saling sapa,
kisah kita akan tetap menjadi
sebuah lembut yang selalu
kututup dengan doa.
Aku minta maaf atas segalanya.......
No comments:
Post a Comment
the criticism has done me good.